PENULIS ga harus ada PEMBACA
Assalamualaikum! Hai kembali lagi ke blog aku. (Ntah buat siapa salam ini, karena yang baca aja belum tentu ada)
Hari ini gak ada konten khusus atau ada penulisan khusus. Hari ini, aku cuma mau bahas soal pernyataan 'Penulis gabutuh pembaca' Atau lebih sering kalian denger tentang 'Gak semua tulisan ditujukan untuk dibaca' karena memang IYA.
Maksudnya tuh, bukan dengan sombong aku bilang penulis gabutuh kalian -para pembaca- tapi maksudnya,tuh, kadang aku sendiri pun menulis karena aku ingin menulis bukan karena ingin dibaca. Karena kembali lagi, tulisan itu ada karena sebuah kejujuran, keresahan dan sebagian besar idenya akan muncul begitu saja lalu, apa yang kita tulis sih dari aku sendiri ya, pasti lebih sering mewakilkan suasana hati ku saat ini. Karena emang kalo tulisan tanpa kejujuran itu rasanya SULIT BANGET.
Dan kembali ke topik, pernyataan diatas itu sekali lagi aku setuju. Karena seperti yang udah aku bilang, tulisan akan menemukan pembacanya sendiri, contohnya seperti ini orang akan membaca apa yang ingin dia baca dan penulis akan menulis apa yang ingin dia tulis. Jadi, kalau tulisan kita--yang mungkin kita bagikan di sosial media-- terbaca oleh 100 orang, misal, maka akan ada pihak yang merasa terganggu atau mungkin tidak suka. Tapi, karena itu pula, jangan jadi alasan kamu berhenti menulis. Sejatinya, menulis itu untuk kebebasan berpikir bukan untuk membahagiakan orang lain yang mungkin tak pernah ada puasnya.
SEKALI LAGI, Pembaca akan menemukan bacaanya dan penulis akan menciptakan tulisannya sendiri.
Terima kasih sudah membaca, wassalamualaikum.
Nadya amalia, tangerang 2 maret 2019
Hari ini gak ada konten khusus atau ada penulisan khusus. Hari ini, aku cuma mau bahas soal pernyataan 'Penulis gabutuh pembaca' Atau lebih sering kalian denger tentang 'Gak semua tulisan ditujukan untuk dibaca' karena memang IYA.
Maksudnya tuh, bukan dengan sombong aku bilang penulis gabutuh kalian -para pembaca- tapi maksudnya,tuh, kadang aku sendiri pun menulis karena aku ingin menulis bukan karena ingin dibaca. Karena kembali lagi, tulisan itu ada karena sebuah kejujuran, keresahan dan sebagian besar idenya akan muncul begitu saja lalu, apa yang kita tulis sih dari aku sendiri ya, pasti lebih sering mewakilkan suasana hati ku saat ini. Karena emang kalo tulisan tanpa kejujuran itu rasanya SULIT BANGET.
Dan kembali ke topik, pernyataan diatas itu sekali lagi aku setuju. Karena seperti yang udah aku bilang, tulisan akan menemukan pembacanya sendiri, contohnya seperti ini orang akan membaca apa yang ingin dia baca dan penulis akan menulis apa yang ingin dia tulis. Jadi, kalau tulisan kita--yang mungkin kita bagikan di sosial media-- terbaca oleh 100 orang, misal, maka akan ada pihak yang merasa terganggu atau mungkin tidak suka. Tapi, karena itu pula, jangan jadi alasan kamu berhenti menulis. Sejatinya, menulis itu untuk kebebasan berpikir bukan untuk membahagiakan orang lain yang mungkin tak pernah ada puasnya.
SEKALI LAGI, Pembaca akan menemukan bacaanya dan penulis akan menciptakan tulisannya sendiri.
Terima kasih sudah membaca, wassalamualaikum.
Nadya amalia, tangerang 2 maret 2019
Comments
Post a Comment